Hidup dalam Kreatifitas. Bagaimana Caranya?
Acara bulanan Freedom of Sharing (FreSh) kembali hadir. Bekerjasama dengan Program Magister Perubahan dan Pengembangan Organisasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya pada Senin, 23 Agustus 2010 FreSh Surabaya menggelar sesi diskusi dengan tema Life with Creativity.
Sejumlah pembicara dihadirkan untuk membahas apa itu kreatif, bagaimana prosesnya, serta bagaimana mengeksekusi ide kreatif hingga bisa “dijual”. Para pembicara yang hadir antara lain, Budi “Bukik” Setiawan (Ketua Program Magister Perubahan & Pengembangan Organisasi. Promotor Imagine Indonesia), Hengki Setiawan (Creativity Booster & Founder of Creathinx (www.creathinx.com), Bram Pitoyo (Design Strategist and Typographer at the Nexus), dan Dito Chrisdianto (Conceptor of Rumah Orkestra, Rumah Ide Satu (RI-Satu ), Creative and Marketing Communication Strategy Consultant).
Acara yang dilangsungkan pada Senin, 23 Agustus 2010 mulai pukul 18.30 tersebut bertempat di Aula Abraham Maslow Lt. 3 Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Jl. Dharmawangsa Dalam Selatan No. 4-6 Surabaya.
Acara tersebut dimaksudkan untuk lebih mengenalkan kepada masyarakat luas gaya hidup kreatif. Pasalnya, sejumlah orang sudah membuktikan bahwa dengan kreatifitas mereka bisa hidup dan sukses berkarir. Dan bahkan, ada orang yang akhirnya sengaja hidup untuk menghidupi kreatifitas. Panitia tidak memungut biaya pendaftaran.
Pembicara pertama yang presentasi adalah Bukik. Bukik mengawali sesinya dengan menunjukkan sebuah potongan gambar, kemudian bertanya kepada para peserta yang hadir, gambar apakah tersebut? Berbagai macam jawaban keluar. Semua menebak dengan spontan.
Kemudian, Bukik membuka gambar tersebut seluruhnya. Dan imajinasi yang muncul dari para peserta ternyata tak jauh-jauh dari gambar besar yang ditunjukkan Bukik.
Dari momen tersebut, Bukik ingin memperlihatkan bahwa untuk kreatif seseorang harus berani berimajinasi. Orang harus bisa membebaskan pikirannya. Bukik mencontohkan, lagu C.I.N.T.A -nya D’Bagindaz yang tergolong “biasa saja” bisa sangat berbeda dan asyik ketika diperdengarkan Vina Panduwinata dengan sentuhan musik hasil imajinasi dari Andi Rianto. Menurut Bukik, dengan menjauhi hal yang biasa orang akan menemukan sesuatu yang kreatif.
Presentator kedua adalah Hengki Setiawan. Jurus kreatif versi Hengki ada tiga, yaitu: lirak-lirik, mudah terangsang, dan tidak pernah puas.
Lirak-lirik diartikan sebagai melihat sekeliling. Jika ingin menciptakan hal-hal yang kreatif, haruslah aktif mencari hal-hal di sekitar yang sekiranya bisa dijadikan referensi. Mencari yang sudah ada serta diikuti dengan mencari yang belum ada.
Setelah lirak-lirik, proses selanjutnya adalah mudah terangsang. Rangsangan yang paling ampuh adalah dari lingkungan yang ada di sekitar kita sendiri. Misal, benda-benda yang awalnya tidak berfungsi bisa difungsikan dengan modifikasi tertentu. Dan yang ketiga adalah tidak pernah puas. Terus dan terus mencari, hingga menemukan sesuatu yang luar biasa.
Menurut Hengki, kreatifitas juga bisa diciptakan dengan menyibukkan pikiran nalar (sadar) kita. Ia menyebut cara ini dengan: kreatif tanpa mikir. Artinya, ketika pikiran nalar kita sibuk, pikiran kita yang “tidak nalar” akan semakin terbuka dan memunculkan ide-ide yang spontan.
Presentator ketiga adalah Bram Pitoyo. Bram berpendapat bahwa cara menemukan kreatifitas itu bisa dipetakan. Ia kemudian menawarkan cara-cara yang ia temukan ketika menangani sejumlah produk. Untuk mendapatkan petanya, menurutnya kita harus menentukan titik ekstrim dengan sejumlah parameter. Dua titik ekstrim tersebut misalnya kuat-lemah, male-female, maskulin-feminin, berat-ringan, dan lain sebagainya. Untuk mendapatkan semua itu harus dilakukan riset. Dan ketika kita sudah bisa menentukan ukuran keseimbangan antara penawaran dan permintaan di situlah produk bisa diciptakan.
Bram mengakui, seringkali ide-ide yang keluar dari kita malah berbanding terbalik dengan dana investasi dari klien. Oleh sebab itulah pemetaan-pemetaan seperti itulah diperlukan. Namun Bram juga mengatakan bahwa setiap orang bisa menemukan caranya sendiri untuk menciptakan produk-produk kreatif. Jadi, menurutnya kita harus selalu mencari cara yang cocok bagi kita sendiri.
Presentator terakhir Dito Chrisdianto. Sebagai seorang yang cukup lama bergelut di dunia media dan marketing Surabaya, Dito banyak paham tentang bagaimana menjual kreatifitas kepada klien-klien di Surabaya. Kebanyakan klien-klien Surabaya, dalam memasarkan produknya dengan prinsip low cost high impact.
Nah, menurut Dito, cara berpikir kreatif sangat membantu dalam hal itu. Lagi-lagi Dito juga menekankan pentingnya riset. Dalam pengalamannya, sebelum merumuskan konsep untuk klien, Dito meriset hal apa saja yang sudah dan belum dilakukan oleh kompetitor. Kemudian ia memasukkan unsur-unsur brand positioning, diferensiasi, serta brand activation. Salah satu hal prinsipil dari Dito, jika tidak bisa menjual produk sendirian, ajaklah rekan (orang maupun institusi) yang masih mempunyai visi dan misi yang sama. Karena dengan begitu, ongkos jualan kita bisa lebih dihemat.
Demikian ulasan FreSh Surabaya edisi Agustus. Ulasan FreSh Surabaya edisi Agustus lainnya juga bisa dilihat di blog.bhazz.com. Nantikan FreSh Surabaya edisi selanjutnya. Ikuti pula livetweet FreSh Surabaya melalui hastag #FreShSby dan bergabunglah di Facebook page-nya. Salam.



Eh, kemaren aku liat @bhazzteam juga nulis review #FreShSby di link dong mas @imammtq
Oke.. sudaah..