Perlukah Keterbukaan pada Client?
Bangsa Indonesia sedang mengalami masa-masa dimana semua orang sangat susah untuk mempercayai sesuatu, tidak hanya dibidang politik, tapi disemua bidang. Apalagi dengan munculnya iming-iming mendapatkan uang hanya dengan duduk di atas toilet kak*s, uang dengan mudah mengalir ke kantong Anda. Banyak sekali hal-hal yang perlu dijelaskan agar kepercayaan itu terpelihara dengan baik. Nah dalam hal layanan seperti web development bagaimana?
Saya menulis ini karena banyak sekali kasus kasus yang saya temui, ada seorang pengusaha UKM yang usahanya dibidang makanan yang dia mengeluh karena banyak sekali beban yang dia harus bayarkan kepada seorang web developer, kalau tidak salah sekitar Rp. 4 jt (saya lupa perbulan atau pertahun) ” ini bukan biaya developnya tapi tagihan perbulan/pertahun kepada si pengusaha “. WAW!!! Super Sekali. yang saya pikirkan waktu mendengar ini adalah hebat banget tuh web developer, UKM bisa tembus dengan harga se Dahsyat itu.
Kasus yang lain adalah seorang pengusaha bercerita kepada saya bahwa dia lagi memesan sebuah website untuk produk yang mau dia pasarkan, katanya pengembangan websitenya dikembangkan dengan menggunakan CMS, setelah saya tanya CMS apa yang dipakai? teman saya itu menjawab bahwa lagi di program oleh web developernya. Dia memesan 1 pakel website maksudnya semua diserahkan pada 1 orang/perusahaan penyedia layanan web development. kata dia lagi dia membayar web design, CMS dan web programmingnya. Ada yang aneh bukan?
Diatas hanya sebagian kecil dari banyaknya masalah yang dihadapi seorang web developer. Sebenarnya Perlukah Keterbukaan(jujur) kepada Client? Seorang client yang sangat awam tentang per-website-an ingin membuat sebuah website, sebagai web developer langkah-langkah apa yang perlu disampaikan bagi client tersebut? Apakah kita memberikan harga yang selangit? mumpung client kita ini tidak mengerti sama sekali tentang website.
Mari kita berdiskusi



Nyoba ngitung 4 juta untuk toko online yang pakai CMS:
200 rb untuk hosting gede
110 rb untuk domain
0 rupiah untuk CMS
0 rupiah untuk photoshop bajakan
50 ribu untuk biaya listrik selama mendesain
10 ribu untuk beberapa jam internetan sekalian fesbukan (tarif warnet)
3.630.000 adalah bayaran untuk keringatnya mendalami web development selama 4 tahun, pengalamannya menghadapi berbagai macam bug, error, keliru memilih software editor dan ftp client, cacimaki desain, kalah dalam tender, hingga di hack orang lain, serta memilihkan modul2/plugin2 terbaik untuk kliennya.
kemudian jika untuk setahun, berarti 3.630.000 dibagi 12 yaitu 302.500 per bulan. Gimana kalau yang nangani adalah perusahaan? Belum nggaji WD, WP, akuntan, Copywriter, webmaster, PR, dan AEnya. Berarti 302.500 dibagi 7. Pfftt.. Mending jadi bakul kebab aja kalau begitu >,>
Itu baru CMS. Kalau hand-coding dihargai segitu, bisa mati industri web Indonesia
yang bisa dihargai mahal itu bukan teknologinya, tapi solusi/ide yang bisa diberikan ke klien.. sama kaya WordPress kan gratis, tapi masa mau bikinin website gratis?
harga lebih banyak, layanan juga lebih tinggi.. harga untuk level UKM pastinya juga ga sama dengan harga untuk level korporat..
jadi perlukah keterbukaan sama klien? tergantung, kalo kliennya temen kita, boleh juga terbuka cerita sekaligus edukasi pasar.. kalo kliennya perusahaan, biasanya kan mereka nerima beres kan?
terbuka kayakny alebih baik deh
tentu tanpa harus telanjang
salam
Nampaknya salah paham dalam tulisanku ini : aku edit lagi
4 jt tersebut bukan harga nilai projectnya tapi tagihan yang harus dibayarkan kepada web developer (aku asumsikan adalah biaya hosting dan domain)
begitu ceritanya
jadi intinya tulisan ini apa yach ??belum ada kesimpulan akhir, , , lalu muncul pertanyaan baru dari vyatri , ,hmmm kyknya sumber berita nya kurang, , andaikata CMS tsb dihargai 15 juta, , zulkarnain setuju?
Inti dari tulisan ini kan tanda tanya itu? bertanya kepada seorang web developer tentang clientnya
masih belum paham? Ketika CMS dihargai 15jt itu CMS jenis apa dulu.. kalau cuma WP mah kasihan clientnya
Intinya sih, VALUE!
Mau nagih berapapun ke client, asalkan si client merasa sebanding value yang dia dapatkan ya gak masalah.
Klo client komplain, itu artinya client merasa value yang dia dapatkan kurang dari yang ia bayarkan/harapkan.
Klo kita sebagai web developer ngerasa kita udah memberi yang lebih lebih sementara dia masih gak puas, tinggalin aja secara baik baik. Itu artinya dia bukan segmen market kita.
Gitu aja kok repot (GUSDUR Style)
setuju nih
+1
yayayaya…. betul juga ya mengenai segmentasi ini…
ikutan nulis juga dong mas Ramadoni
haduh nulis apa ya?? belum pantes nulis2 begini… ilmunya masih cetek… =)
komen2 dulu aja deh… hehe..
gue suka ni sama komentar brian
ga semua segmentasi calon pelanggan harus dibabat
dan ga perusahaan engga akan bisa memiliki masa depan cerah (sustainable future) jika terus berpatokan kepada harga murah dan banting2an harga
ini jawaban yang sangat pas
berikan VALUE yang setara dengan yang kita dapatkan
dan sebaliknya bagi client, sepanjang mereka menerima VALUE sesuai yang dia harapkan tentu tak ada masalah tentang nilai uang yang harus dibayarkan
jadi bukan masalah mahal atau murah, tetapi reasonable atau tidak..?
salam
Social comments and analytics for this post…
This post was mentioned on Twitter by zulsdesign: Perlukah kita Terbuka kepada Client? http://bit.ly/a4g9lB tulisan terbaru saya di @rumahdot…
uwahh…. bossnya Qwords web hosting mampir sini. Terima kasih banyak bos dah mampir
Memang mensegmentasi itu bisa dilakukan seperti yang saya komenkan di atas. Tapi tetep, praktiknya sering harus bener bener punya pegangan dan komitmen yang kuat
uwahh…. bossnya Qwords web hosting mampir sini. Terima kasih banyak bos dah mampir
Memang mensegmentasi itu bisa dilakukan seperti yang saya komenkan di atas. Tapi tetep, praktiknya sering harus bener bener punya pegangan dan komitmen yang kuat
saya bukan web developper,
tapi izinkan saya ikut nimbrung dempet2an dengan para master web developper diatas,
ada baiknya dev. terbuka kepada klien, apa-apa saja yang harus dibayar/dipilih
misalnya template bajakan dari warez-bb bisa dibayar lisensinya yang seharga 39$ atau si klien beneran mau bajakannya aja (jarang yang nanya, karena pengen tau jadi aja)..
hosting, kasih klien pilihan dan source hosting, jika ambil untung yah bilang aja untuk kopi dsb..
untuk CMS, baiknya terbuka, karena klien mgkin agak canggung kalo diwebsitenya tertulis powered by : jomblo… bla bla
pendapat saya berlaku untuk segmen ukm aja, mgkin klo perusahaan beda lagi
seperti menjual aqua di pinggir jalan dan di hotel, produk yang sama dengan harga yang beda
powered by jomblo wakakak
kalau yg dimaksud joomla, boleh kok tulisan powerednya dihilangkan. kan lisensinya gpl
GPL itu = Gak Pake Lama ya?
Ato Gak Pake Lisensi hehehe…
saya juga bukan webdev, tapi saya tahu tentang webdev dan marketting.
dan cara ini, Rosullulloh Muhammad mode : activated banget
great
saya setuju dengan Mas Brian Arfi dengan konsep Valuenya, jadi inget presentasi pak Made Wiryana di #wordcampid2010..give the solution not the features
untuk keterbukaan, saya pribadi sah2 aja untuk mengedukasi klien, toh mereka berhak tahu tantang layanan yang sudah mereka bayar. tentunya dalam porsi yang pas
Kalo saya (web dev yg masi awam), biasanya ngasih pilihan ke calon client. Apakah mereka mo pake’ CMS yg dah ada dipasaran seperti jombloh, tekankata (w*rdpr*ss) or yg laennya, saya bisa kasih tawaran rendah (ongkos design dan sedikit ongkos kerja lah
). Ato mereka mo CMS gress yg benar2 sesuai dengan spesifikasi permintaan mereka, yg ini saya kasi tawaran yg rada tinggi ^^
ikut #nyamber ah
paradigma dari awal sebenernya udah salah.
langsung mempertemukan client dengan web developer.
prakteknya kurang professional, imho.
kalo urusannya begini, yang ada ke klien hanya What You Pay is What We Code.
kapan gede nya nilai project?
biasakan menghandle segala sesuatu dgn fungsi account. fungsi team.
kalo dah bicara begitu, bukan hanya code yang akan klien tanggung, tapi sampai tetek bengek berapa batang rokok yang dihabiskan tim konsultan, developer, qc, office boy segala pun harusnya ikut kehitung, selama project berjalan.
mengcreate sebuah web, bukan hanya berurusan dgn create mockup, desain, coding, dan live aja khan?
ada saatnya strategi dan pengalaman itu bisa menjadi jauh lebih mahal daripada eksekusinya sendiri. afaik, lebih sering malahan.
itulah idealnya, — imho — knp rata2 project, diset dgn perhitungan man day, dan bukan perhitungan modul per modul.
soal developmentnya nantinya pake apa, pake wordpress, joomla, or drupal, or something lah, itu urusan nanti, urusan dapur pastinya. tp biasanya sih dapurnya milih WordPress … upss (pesan sponsor, red.)
btw, personally, kalo ternyata hanya 15 juta nila projectnya, harusnya yang kasian WordPress nya dong. LOL
wah menarik nih.
btw kalo freelance gimana tuh ? kan kerjanya sendiri ?
Menurut saya sah-sah saja sebuah barang dijual dengan harga yang lebih mahal, asalkan pembeli rela membayarkan uangnya kepada penjual dan terjadi akad jual beli. Pembeli membeli sesuatu berdasarkan nilai (menurut pengetahuan & pengalaman) yang ia dapatkan dengan membeli barang tersebut. Saya pernah mendapatkan cerita seperti ini, seorang web developer terkenal di Surabaya bercerita kepada saya bahwa di mampu menjual template wordpress (dengan lisensi USD$10) ke pembeli dengan harga (USD$500), Pembeli tidak merasa tertipu meskipun akhirnya tahu bahwa produk yang dibelinya harganya adalah USD$10. Tapi karena penjualnya ini memiliki dedikasi kepada pembeli sangat tinggi dan memberikan pelayanan yang cukup prima, si pembeli pun melakukan pembelian ulang lagi kepada web developer tersebut dengan produk yang berbeda. Apaun produknya bisa kita jual dengan harga yang tepat (keuntungan tinggi) asalkan kita bisa menemukan pelanggan yang tepat (yang mau beli), tentunya dengan cara yang tepat pula. bagaimana menurut Anda?
Berarti yang diucapkan bang valent dan mas nazuka ini kan intinya sama to.
Value
Selama client merasa bahwa yang dia dapatkan itu setidaknya sepadan dengan yang dia bayarkan, maka nggak ada masalah dengan mereka.
seru juga nih pendapatnya mas Valent, "ada saatnya strategi dan pengalaman itu bisa menjadi jauh lebih mahal daripada eksekusinya sendiri"
bisa dijelasin lebih detail mas?
saya setuju dengan mas brian arfi…
saya sih biasanya terbuka saja, kalo saya pakai cms dan tempalte gratisan alias tidak bayar…saya lebih memfokuskan untuk nilai sebuah website itu sendiri, saya berpikir jangan sampai klien merasa memiliki website namun tidak berguna…biasanya saya bertanya dan mendengarkan apa yang klien butuhkan sekaligus mengedukasi mereka akan pentingnya website sebagai alat pemasaran mereka.
biasanya saya bertanya kepada klien "buat website tujuannya apa?" dengan pertanyaan seperti ini sering kali klien juga bingun jawabnya kok…nah disinilah biasanya saya mengedukasi mereka…dan justru klien yang seperti inilah yang kebanyakan deal sama dengan saya dengan nilai yang cukup tinggi.
jadi mungkin terbuka saja dan jujurlah…
mirip dengan Brian dan Valent, saya sih nggak pernah share suatu web ini mau didevelop pakai apa (meski ujung2nya kalau nggak wordpress ya drupal)
Kecuali berhadapan dengan klien LSM (yg biasanya benar2 harus transparan sampai detil bon2), nggak usah menjabarkan detil cost development website. Cukup 3 bagian saja: Creative, Development, dan Maintenance.
Klien gak perlu tau kita ngerjainnya pake listrikl berapa watt, berapa rokok, kopi, begadang2, dll. Mereka cuma perlu tahu value yg didapat dengan cost itu sebanding nggak dengan yang akan mereka dapat. Yang penting dari sisi kita juga aman, nggak menggunakan materi yang (misalnya) melanggar copyright orang lain.
Oh ya dan tentukan sendiri kelas kita. Kalau kita mengkelaskan diri kita dengan sebuah web berharga 4-5 jt, maka hati2 saja, karena angka ini akan menjebak di proyek2 selanjutnya (alias dapet murah terus).
Wah, bos Pitra mampir kesini
terima kasih atas sharingnya bos. Supaya merangsang banyak temen temen developer lain biar cepet ‘level up’
Klien berhak untuk tahu apa yang mereka dapatkan dari servis kita sebagai seorang web developer. Untuk itu saya berada diposisi untuk menyatakan, iya, keterbukaan itu diperlukan.
Biarkan klien yang menimbang kelayakan akan “value” yang kita berikan dengan biaya yang mereka keluarkan.